Kamis, 25 Desember 2014

Penerapan Tik Dibidang Kesehatan Dapat Diibaratkan Sebagai Pisau Bermata Dua

Latar Belakang

Perkembangan teknologi komputer (informasi) yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi komputer relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasi komputer, rumah sakit rata-rata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi komputer merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi dan komunikasi komputer saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa.

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dibidang kesehatan ibarat sebuah pisau yang bermata dua yang dapat digunakan sesuai keinginan, pisau layaknya dapat berfungsi  untuk memotong sayur, buah, roti, daging, dan lainnya, juga pisau dapat digunakan untuk menganiaya dan membunuh seseorang. Begitu pula dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dapat memberikan manfaat bagi seseorang atau masyarakat dengan kemudahan-kemudahan hidup yang dinikmati tetapi juga dapat membawa pada kehancuran hidup.
Persoalan dampak dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi ini bagi seseorang atau masyarakat merupakan proses alamiah sebagaimana persoalan dampak positif dan negative dari suatu alat apapun yang diungkapkan Alex Leo Z menguraikan :
Saya kira semua langkah itu ada positif dan negatifnya, tidak bisa negatif semua atau positif semua. Tetapi harus kita bedakan, harus bisa kita filter mana yang positif dan negatif bagi kita.
Kita harus membuat daya tahan dan daya ketahanan nasional. Hanya itu satu-satunya cara. Pada akhirnya tidak ada jalan kecuali memperkuat diri masing-masing.
Dengan demikian permasalahan dampak positif dan negatif dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi terutama dampak negatifnya tergantung bagaimana kita mampu memfilter dan merubahnya menjadi kelebihan yang sangat bermanfaat bagi kita untuk kesejahteraan hidup. Tentunya tergantung dari ketahanan diri kita untuk menyaringnya. Salah satu ketahanan diri yang harus dimiliki adalah ketehanan agama yang menjadi dasar kita dalam menyaring dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar